Postingan

Menampilkan postingan dengan label CERPEN

CERPEN- M. REDA A.

Kelas 11 dan Sebuah Keputusan Pagi itu, kelas 11 IPS-3 tampak lebih ramai dari biasanya. Setelah beberapa minggu ujian tengah semester, suasana sekolah mulai kembali normal, meskipun stres ujian masih menghantui banyak siswa. Di tengah-tengah keramaian itu, Nadia duduk di bangkunya, menatap lembaran catatan di meja dengan perasaan campur aduk. Sebagai siswa kelas 11, Nadia tahu bahwa tahun ini adalah tahun yang penting. Setelah lulus dari kelas 12 nanti, ia harus memilih jalur kehidupan yang akan membawanya ke masa depan. Sekarang, di tengah perjalanan itu, ia merasa seperti berada di persimpangan jalan yang sulit. Nadia bukanlah tipe siswa yang selalu tampil sempurna. Nilai-nilainya selalu cukup, tidak terlalu rendah, tetapi juga tidak terlalu tinggi untuk membuatnya menonjol di antara teman-temannya. Namun, belakangan ini, ia merasa tertekan dengan pilihan yang harus diambil—apakah ia harus mengikuti jejak teman-temannya yang sudah jelas memilih jurusan di universitas, ataukah ia aka...

CERPEN-M. RAFFLI GUNAWAN

Senja di Layar Ponsel Cahaya senja yang dulu menyapa lewat jendela kamar, kini hanya tertangkap lewat layar ponsel. Awan-awan yang dulu menjadi teman bermain, kini hanya menjadi filter Instagram. Dulu, senja adalah waktu untuk merenung, kini senja adalah waktu untuk scroll timeline. Rafli duduk di balkon kamarnya, ponsel di tangan. Ia mengabadikan langit jingga yang mulai memudar. Cahaya ponsel menerangi wajahnya yang pucat. Ia mengunggah foto itu dengan caption yang penuh makna, tapi sebenarnya hanya isinya kesepian. "Senja ini indah sekali," tulisnya, padahal hatinya sedang gundah gulana. Dulu, Rafli akan keluar rumah bersama teman-temannya saat senja. Mereka akan duduk di taman, bercerita, dan tertawa lepas. Kini, pertemanan mereka lebih banyak dilakukan secara online. Obrolan mereka lebih banyak tentang likes dan followers, bukan tentang mimpi dan harapan. Senja di kota besar memang berbeda. Kesibukan dan hiruk pikuk membuat orang-orang sulit untuk sekedar menikmati keind...

CERPEN-MAULIDATUN NAJIBAH

Pagi itu, Matahari baru saja terbit ketika Ayu membuka pintu rumahnya. Jalan setapak di depan rumahnya masih basah karena hujan semalam. Angin pagi menampar lembut wajahnya, membangkitk Ayu memandangi jalan itu, jalan yang dulu sering dilaluinya setiap pagi saat ia berjalan kaki ke sekolah. Ayu tumbuh di desa kecil dengan segala keterbatasan. Ibunya adalah seorang penjahit rumahan, sementara ayahnya bekerja sebagai buruh tani. Meski sederhana, keluarganya penuh cinta dan kehangatan. Namun, hidup tak selalu“Ayu, jangan pernah menyerah. Langkah kecil kita hari ini akan menjadi perjalanan besar nanti,” ucap ibunya suatu malam, ketika Ayu mengeluh lelah. Kata-kata itu terus terngiang di telinga setiap kali ia merasa putus asa. Ketika ia masuk SMA, Ayu mulai memahami pentingnya pendidikan untuk mengubah hidupnya. Meski harus berjalan kaki sejauh 5 kilometer setiap hari ke sekolah, ia melakukannya tanpa ragu. Sepulang sekolah, ia belajar sambil membantu ibunya. Kini,Pagi itu, Ayu tersenyum m...

CERPEN-NAILU ALVAN

  Jejak Bersejarah di Gunung Penanggungan Mentari perlahan merangkak naik, menyinari puncak-puncak gunung yang menjulang gagah. Di antara deretan pegunungan yang membentang luas di Jawa Timur, Gunung Penanggungan berdiri kokoh dengan segala misterinya. Bagi Arya, seorang pemuda pencinta alam, gunung ini adalah magnet yang tak tertahankan. Hari ini, ia bersama teman seperjuangannya akan memulai petualangan menaklukkan puncak Pawitra, puncak tertinggi Gunung Penanggungan. Jalur pendakian yang dipilih adalah jalur Tamiajeng, yang terkenal dengan keindahan alamnya dan keberadaan sejumlah candi peninggalan Kerajaan Majapahit. Sejak awal pendakian, Arya sudah dibuat takjub oleh panorama alam yang disuguhkan. Hutan yang lebat, suara burung yang merdu, dan semilir angin sejuk menemani langkah mereka. Semakin tinggi mereka mendaki, semakin banyak candi-candi kuno yang mereka temui. Candi-candi tersebut tersebar di sepanjang jalur, masing-masing memiliki kisah dan keunikan tersendiri. Arya d...

CERPEN-KHALIM FAIZATUS

Sekolah Dasar Namaku, Adi, seorang anak sekolah dasar yang berumur 11 tahun. Aku ingin menceritakan pengalaman-pengalaman menarik yang aku alami di sekolah. Meskipun kadang-kadang pelajaran di sekolah terasa sulit, aku belajar banyak hal yang membuatku merasa seperti pahlawan belajar. Sejak duduk di bangku kelas 1 SD, aku sudah sangat antusias tentang sekolah. Aku selalu bangun pagi-pagi sekali, bahkan sebelum ayah dan ibuku. Aku mengenakan seragam sekolahku dengan bangga dan menyusun buku-buku ke dalam tas merahku. Tas itu berisi pensil, pensil warna, penghapus, buku tulis, dan banyak buku pelajaran yang tebal. Salah satu mata pelajaran favoritku adalah Matematika. Aku suka memecahkan soal-soal matematika dan merasa senang ketika jawabanku benar. Tetapi ada juga saat-saat ketika aku merasa kesulitan, terutama ketika guru memberikan soal-soal yang tampaknya rumit. Namun, aku tidak menyerah. Aku belajar lebih keras, dan jika aku tidak mengerti, aku selalu bertanya pada guru atau teman s...

CERPEN-NAJWA NURUSHOUMA AL-AFWA

Menunggu di Ambang Dewasa Aku masih berusia 17 tahun, tepat di tengah antara masa remaja dan dewasa. Terkadang, rasanya seperti berada di sebuah persimpangan jalan, di mana aku harus memilih arah hidup, tetapi aku tidak yakin harus melangkah ke mana. Keinginan untuk cepat tumbuh dewasa sering bertabrakan dengan kenyataan bahwa aku belum sepenuhnya siap untuk meninggalkan dunia yang penuh kebebasan ini. Aku tahu, setelah ujian kelulusan, aku akan menghadapi dunia yang lebih luas dan lebih menantang, dan aku belum siap. Semua teman-temanku sudah memikirkan tentang kuliah, karier, atau bahkan merencanakan masa depan mereka yang cerah. Sementara itu, aku masih merasa bingung tentang apa yang benar-benar aku inginkan. Terkadang, aku merasa seperti aku tidak memiliki tujuan yang jelas. Semua orang tampaknya begitu tahu apa yang mereka inginkan, sedangkan aku? Aku merasa seperti hanya mengikuti arus, tanpa tahu ke mana arus itu akan membawaku. Saat duduk di bangku taman sekolah, aku memandang...

CERPEN-M. IRSYADUL IBAD

Aku dan Kamu Pagi itu, langit mendung menggantung rendah di atas kota kecil tempat kami tinggal. Aku sedang duduk di bangku taman, menunggu kamu. Sebuah janji yang sederhana, tapi selalu berhasil membuat hariku lebih bermakna. Kamu datang dengan langkah tergesa, mengenakan jaket abu-abu yang sering aku bilang sudah terlalu lusuh. Tapi kamu hanya tertawa dan mengatakan, "Ini jaket keberuntungan aku." Aku tersenyum, seperti biasanya. "Maaf telat," katamu sambil mengatur napas. Aku hanya menggeleng. "Aku sudah tahu kamu bakal telat." Kamu tertawa, dan aku ikut tertawa. Ada sesuatu tentang kehadiranmu yang selalu membuat suasana menjadi hangat, bahkan di bawah langit yang kelabu sekalipun. "Kamu tahu kenapa aku suka ketemu kamu di taman ini?" tanyaku, sambil memandang pepohonan yang daunnya mulai berguguran. Kamu mengerutkan dahi, mencoba menebak. "Karena es Mixue-nya enak?" Aku tertawa kecil. "Bukan. Karena di sini, aku bisa melihat k...

CERPEN-NATASYA BASNAPAL

Masa masa SMA Masa SMA bagi ku adalah sebuah perjalanan yang penuh warna, yang akan selalu dikenang meskipun waktu terus berlalu. Banyak kenangan yang tak pernah bisa terlupakan bagi setiap orang yang mengalaminya. Setiap harinya dipenuhi dengan tawa, canda, keseriusan belajar dan juga sedikit kekhawatiran tentang ujian yang semakin dekat. Aku merasa bahwa masa SMA adalah waktu terbaik dalam hidupku. Bukan hanya karena waktu belajar di kelas, tetapi juga karena momen kebersamaan yang tercipta. Di kelas, aku duduk bersama teman-teman yang selalu siap untuk membantu bila aku kesulitan. Pagi itu, seperti biasa, aku datang sebelum bel berbunyi. Suasana sekolah selalu terasa khas di setiap pagi. Sambil berjalan, aku melewati lapangan sekolah yang cukup ramai. Beberapa teman sudah berkumpul di depan pintu kelas, saling bercakap-cakap dan tertawa. "Tasya, akhirnya datang juga!" seru teman-teman. "Eh, iya. Telat dikit," jawabku sambil tersenyum malu. Aku pun masuk dan dudu...

CERPEN-NAHDHIYAH AFKARINA

  HUJAN,TEMANI AKU     Aku berdiri termenung,diam mengamati lamatnya hujan dalam renung.Berusaha nyaman berpelukan dingin dengan hujan.Dan selalu,kembali mengingat `hujan`di hari itu.      Hari berjalan seperti biasanya.      Bangun pagi,sarapan ,pergi ke sekolah,sampai dikelas,menunggu guru datang mulai mengabsensi.Hingga aku baru menyadari bangku depan `itu`kosong.Pagi ini dia-eh-maksudku ,teman dekatku,bukan.Hanya teman biasa,tidak menghadiri kelas.Entahlah akupun tak mengetahui keberadaanya.Dan tepatnya hari itu,aku tak akan pernah bertemu dengannya-selamanya.     Hujan masih turun,sama derasnya seperti` hari itu`.Membuatku mengingat lebih dalam runtutan kejadiannnya.Hingga benar benar kejadian itu tak memberi sebuah akhiran yang jelas.Tak ada perpamitan agar menjadi perpisahan yang baik.      Pulang sekolah aku pergi berjalan ke rumahnya.Didepan rumah aku mulai menatap ragu untuk melangkahkan kaki.Hei kenapa baru...

CERPEN-NINDI AULIA

CERITA INI DIKUTIP DARI KEHIDUPAN NYATA ,MESKIPUN DALAM CERITA INI KISAH DISAMARKAN UNTUK MENJAGA PRIVASI DAN KECOCOKAN CERITA SESUAI IMAJINASI PENULIS.               RASA YANG TERJEBAK “ Seberapa benci kau ?” yang ditanya hanya diam,menatap tak suka orang yang bertanya “Aku bertanya bukan untuk didiami saja Tuan Bori”.Kalimatnya memendam amarah yang bisa saja terluap. “Lihat,bahkan kau tak mampu menjawabnya bukan?”.Tiba-tiba saja nada bicaranya melunak barang sejenak kembali mengintimidasi lagi. “Kau!!! mau sebesar apapaun rasa bencimu terhadap Bapak ,seberat apapun dendamu menumpuk.Tetap saja!! Tuan Bori,itu tak bisa mengalahkan ke tak sukaan ku pada Bapak! . Setengah berteriak Nayla berbicara nya. Tuan Bori mengangkat kepalanya .Kebingungan atas yang didengar-nya. Apa maksudnya? ‘’ Jikaupun itu termasuk kau mengumpulkan semua dendammu atas kesemenaan Bapak,semua orang bawahan Bapak,seluruh pesaing Bapak dan juga orang-orang yang disingkirikan demi ...

CERPEN-M. GHOZALI ABDI

  Anak Pondok  Di sebuah desa yang terletak jauh dari hiruk-pikuk kota, ada sebuah pondok kecil yang dipenuhi anak-anak yatim dan dhuafa. Pondok itu dikelola oleh seorang ustaz bernama Ustaz Ahmad, seorang pria yang telah mengabdikan hidupnya untuk mendidik anak-anak yang kurang beruntung. Setiap hari, Ustaz Ahmad dengan sabar mengajarkan mereka ilmu agama, matematika, dan berbagai keterampilan hidup, agar mereka bisa mandiri suatu saat nanti. Di antara anak-anak yang tinggal di pondok itu, ada seorang anak bernama Fadil. Fadil adalah seorang anak berusia 12 tahun yang penuh semangat, meski tak jarang terlihat kesedihan di matanya. Sejak kecil, ia telah kehilangan kedua orang tuanya dalam sebuah kecelakaan. Karena tidak ada keluarga yang bisa merawatnya, Fadil akhirnya dibawa ke pondok ini. Pondok itu bukan hanya menjadi tempat tinggal bagi Fadil, tetapi juga menjadi tempat perlindungan bagi banyak anak yang nasibnya mirip dengannya. Di sini, mereka belajar untuk berdiri di at...

CERPEN-M. NADZIR AUNILLAH

Langit Tak Selalu Kelabu  Di sebuah desa kecil yang dikelilingi perbukitan, hiduplah seorang wanita bernama Ratna. Hidupnya jauh dari kata mudah. Sejak kecil, ia telah merasakan pahitnya kehilangan. Ayahnya meninggal dunia saat ia berumur lima tahun, meninggalkan ibunya untuk berjuang sendiri membesarkan tiga anak dengan mengandalkan upah sebagai buruh tani. Ratna tumbuh menjadi gadis yang kuat, tapi hidup terus saja mengujinya. Di usia 18 tahun, ia harus merelakan mimpinya untuk melanjutkan sekolah karena ibunya sakit keras. Ia bekerja serabutan, menjadi buruh di ladang orang, mengangkat karung beras di pasar, bahkan menjual kue keliling demi membiayai pengobatan ibunya. “Bu, Ratna nggak apa-apa nggak sekolah. Yang penting, Ibu sembuh,” ucap Ratna sambil memijit kaki ibunya yang mulai melemah. Namun, takdir berkata lain. Beberapa bulan kemudian, ibunya pergi untuk selamanya. Ratna merasa dunia runtuh. Ia kini sendirian, kakaknya telah menikah dan tinggal jauh, sementara adik...

CERPEN-DAIMUL HAQ

Oleh Mesoh A Leekk " Di sebuah desa kecil yang terletak di pinggir hutan, hiduplah seorang pemuda bernama Agus. Agus dikenal sebagai pemuda yang selalu bersemangat bekerja dan penuh ide-ide kreatif. Namun, ada satu kebiasaan yang membuat orang-orang di desanya sering heran. Agus selalu berkata, “Oleh mesoh a lekk!” setelah berhasil melakukan sesuatu yang sederhana, seperti menyapu halaman atau membantu ibu di rumah. “Oleh mesoh a lekk?” kata Agus dengan percaya diri sambil menepuk tangan setelah menyelesaikan pekerjaan. Orang-orang yang mendengarnya seringkali hanya bisa melongo, tidak tahu apa maksudnya. Meski begitu, mereka tidak pernah berani bertanya terlalu jauh, karena Agus selalu terlihat sangat bangga dengan ucapannya. Pada suatu hari, Agus mendapatkan ide untuk membuat sebuah acara besar di desa mereka. Ia ingin mengadakan sebuah lomba makan kerupuk yang mengundang seluruh warga desa. Ia berkeliling dari rumah ke rumah mengundang tetangga, sambil berkata, “Oleh mesoh a le...

CERPEN-DZAKY LINDUNG

AKU KAMU DAN SENJA Senja selalu punya cara untuk mengingatkanku padamu. Pada hari-hari yang kita lewati bersama, di bawah langit yang sama, namun tak pernah benar-benar sama. Seperti senja yang selalu berubah warna, begitu juga perasaan kita—kadang merah menyala, kadang redup seperti cahaya yang tak mampu menembus langit mendung. Aku dan kamu, kita bertemu dalam kebetulan yang tak pernah kita rencanakan. Saat itu, aku duduk di bangku taman, sendirian, menikmati sisa-sisa sore yang tak pernah benar-benar bisa disebut siang. Kamu datang, tanpa suara, seperti angin yang tidak pernah bisa kita tangkap. Tanpa sadar, kita mulai berbicara, lalu berbicara lebih banyak lagi, hingga senja menjadi saksi dari setiap kata yang terucap antara kita. Pada awalnya, aku tidak tahu apa yang membuatku begitu tertarik padamu. Mungkin karena caramu melihat dunia dengan mata yang penuh tanya, atau senyummu yang selalu membuat waktu terasa melambat. Setiap kali kita berbicara, aku merasa seperti aku menemukan...

CERPEN-ABDUL KOHAR

REMAJA BERUNTUNG (aamiin) Hari itu di jam istirahat pertama, kantin MA Namekian ramai seperti biasa. Zaman, siswa kelas 11 IPS yang terkenal kocak sekaligus apes, memegang segelas kopi susu. Dengan penuh percaya diri, ia berkata, “Minum kopi itu seni. Dadi kudu pelan pelan rek” Tapi nasib berkata lain. Seseorang menabraknya dari belakang, dan gelas kopinya melayang indah ke udara, sebelum akhirnya mendarat sempurna di kepala Bu Cici, guru matematika yang terkenal galak. “ZAMAAAAAN!!!” teriak Bu Cici, sementara seluruh kantin tertawa terbahak-bahak. Sejak itu, Zaman jadi bahan obrolan sekolah. “Apes maning Apes maning WKWKWK” ujar Noer, sahabatnya, sambil menertawakan insiden sebelumnya: dari pulpen yang tanpa sengaja mengenai Bu Cici hingga kejar kejaran perkara nilai kosong “Urip ku ngene amat noer,” keluh Zaman, menyeruput teh di kantin beberapa hari kemudian. Tapi, tanpa sengaja, ia menendang kaki kursi seorang siswa. Piring mie goreng pun meluncur dan... “ZAMAAAAAN!!!” teriak Bu C...

CERPEN-KEZIA AZZAHRA ADI PUTRI

Datang dan Pergi Bentuk syukur itu sangat beragam dan aku selalu berusaha mensyukuri segala sesuatu yang diberikan Tuhan padaku, sekecil apapun itu, contohnya sebatas uang yang aku temukan di kantong sendiri atau tentang aku yang sangat mensyukuri nama yang diberikan orang tuaku. Nama pemberian ibu 17 tahun yang lalu, Marina Kanara. Merupakan salah satu hal yang menjadi kesukaanku di dunia ini. Sehari-harinya, aku dipanggil dengan nama nara, lagi-lagi, aku menyukai hal itu. Bukannya terdengar sangat menggemaskan? Aku menyukai laut, sama seperti ibuku yang juga jatuh cinta dengan laut sehingga menjadikan aku sebagai bukti akan kecintaannya dengan hal itu. Sampai di umur sekarang ini, aku telah mengunjungi hampir 30 pantai yang tersebar di Indonesia. Semua liburan dihabiskan di laut seolah opsi tempat hanya tentang laut. Ayahku bekerja di bidang pemerintahan dengan gaji yang mampu menghidupi kami lebih dari cukup. Namun, sangat disayangkan, ayah yang terlalu mengejar dunia dibuat gelap ...

CERPEN-MUFTI FAUZUL

IPA DAN IPS Shyla, gadis cantik kelas 12, selalu menjadi sorotan di SMA. Setiap gerak-geriknya diperhatikan oleh teman-temannya, apalagi oleh Arsya, si adik kelas yang duduk di kelas 11. Arsya bukan tipe yang berani mengungkapkan perasaan, namun sudah lama dia menyimpan rasa kagum pada Shyla dari kejauhan. Dia tahu, Shyla adalah sosok yang sempurna, jauh di atas jangkauannya. Hingga suatu hari, dalam sebuah kejadian yang tak terduga, mereka dipertemukan di kantin saat jam istirahat. Arsya yang sedang terburu-buru untuk membeli makanan tanpa sengaja menabrak meja tempat Shyla duduk bersama teman-temannya. “Eh, hati-hati dong!” seru Shyla sambil tertawa. Teman-temannya ikut terkekeh, membuat Arsya semakin malu. Tapi, yang membuatnya terkejut, Shyla malah mengajak Arsya untuk duduk bersama. “Gak apa-apa kok, sini duduk. Kamu sendirian, kan?” ujar Shyla, ramah. Obrolan ringan pun dimulai. Arsya, yang biasanya kaku dan tidak banyak bicara, merasa canggung tapi nyaman di dekat Shyla. Mereka ...

CERPEN-SILVY N.

Hujan di Desa Tegal Waru Malam itu, hujan turun deras di Desa Tegal Waru. Angin kencang menerpa pepohonan, dan suara gemuruh petir memecah keheningan. Di tengah hujan, seorang pria bernama Saka berjalan terseok-seok di jalan berlumpur, membawa sebuah bungkusan besar di punggungnya. Saka adalah seorang pembuat mainan tradisional dari kayu. Setiap hari ia menjual mainan hasil buatannya di pasar kota, tetapi hari itu ia terlambat pulang karena banjir yang membuat jalan terputus. Ia tahu, istrinya, Lila, pasti sedang cemas menunggunya di rumah. Ketika Saka sampai di tengah desa, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti. Seorang anak kecil berdiri di depan sebuah rumah tua, basah kuyup di bawah hujan. Anak itu memegang sebuah boneka kayu yang rusak, memandang ke arah Saka dengan tatapan penuh harap. “Pak, bisa tolong perbaiki boneka ini?” suara anak itu nyaris tenggelam di antara suara hujan. Saka terkejut. “Apa yang kau lakukan di luar rumah saat hujan begini? Di mana orang tuam...

CERPEN-AURA EKA

Senja di Balik Bukit Hari itu, senja datang lebih cepat di Desa Bukit Angin. Matahari turun perlahan, memancarkan semburat jingga di langit. Di sebuah pondok tua di tepi bukit, tinggal seorang gadis bernama laura. Ia dikenal sebagai seorang pemimpi, sering menghabiskan waktu menatap langit sambil menggambar apa pun yang ada di pikirannya. Namun, sore itu berbeda. laura duduk di depan pondoknya dengan sebuah surat lusuh di tangannya. Surat itu adalah peninggalan terakhir dari kakaknya, fatih, yang meninggal beberapa tahun lalu karena sebuah kecelakaan di hutan. "Jika suatu hari kau merasa ragu dengan hidupmu, datanglah ke Bukit Angin saat senja. Aku akan meninggalkan jawaban untukmu di sana," begitu isi surat itu. laura selalu menganggap surat itu sebagai lelucon, tetapi hari itu ia merasa gelisah. Rasanya seperti ada yang memanggilnya untuk pergi. Dengan membawa buku sketsa dan sebuah jaket tua, ia memutuskan untuk berjalan menuju puncak bukit. Perjalanan tidak mudah. Jalan s...

CERPEN- SALWA AZZAHRA

Putri Kecil dan Dunia Dongengnya Aya adalah gadis kecil bermata bulat dan rambut ikal sebahu. Setiap malam, Aya selalu menantikan saat ibunya membacakan dongeng sebelum tidur. Dunia dongeng adalah tempat favoritnya. Di sana, ada putri-putri cantik dengan gaun berkilau, pangeran tampan menunggang kuda putih, dan istana megah yang penuh keajaiban. Dalam mimpinya, Aya sering menjelajahi hutan belantara bersama peri-peri kecil, menari bersama kurcaci di bawah sinar bulan, atau menyelamatkan pangeran dari naga jahat. Dunia nyata terasa membosankan dibandingkan dengan keajaiban di dalam dongeng. Ia membayangkan dirinya sebagai putri yang hidup bahagia di sebuah istana yang indah. Suatu hari, Aya menemukan sebuah buku tua di lemari kamar neneknya. Buku itu berisi kumpulan dongeng yang belum pernah ia baca sebelumnya. Dengan penuh semangat, Alya membacanya setiap hari. Dalam buku itu, ia menemukan cerita tentang seorang putri yang merasa kesepian meski hidup di istana megah. Putri itu merinduk...