CERPEN-SILVY N.
Hujan di Desa Tegal Waru
Malam itu, hujan turun deras di Desa Tegal Waru. Angin kencang menerpa pepohonan, dan suara gemuruh petir memecah keheningan. Di tengah hujan, seorang pria bernama Saka berjalan terseok-seok di jalan berlumpur, membawa sebuah bungkusan besar di punggungnya.
Saka adalah seorang pembuat mainan tradisional dari kayu. Setiap hari ia menjual mainan hasil buatannya di pasar kota, tetapi hari itu ia terlambat pulang karena banjir yang membuat jalan terputus. Ia tahu, istrinya, Lila, pasti sedang cemas menunggunya di rumah.
Ketika Saka sampai di tengah desa, ia melihat sesuatu yang membuat langkahnya terhenti. Seorang anak kecil berdiri di depan sebuah rumah tua, basah kuyup di bawah hujan. Anak itu memegang sebuah boneka kayu yang rusak, memandang ke arah Saka dengan tatapan penuh harap.
“Pak, bisa tolong perbaiki boneka ini?” suara anak itu nyaris tenggelam di antara suara hujan.
Saka terkejut. “Apa yang kau lakukan di luar rumah saat hujan begini? Di mana orang tuamu?”
Anak itu menggeleng. “Mereka sudah pergi, Pak. Aku hanya punya boneka ini. Tolong perbaiki, aku tidak punya apa-apa lagi."
Hati Saka tersentuh. Ia membawa anak itu ke bawah atap terdekat untuk berteduh, lalu membuka bungkusan kayu yang ia bawa. Dengan cekatan, ia mulai memperbaiki boneka kayu itu, menggunakan peralatan sederhana yang selalu ia bawa.
Saat Saka sibuk bekerja, anak itu bercerita. Namanya Tama, seorang yatim piatu yang tinggal sendirian di rumah kecil peninggalan orang tuanya. Boneka itu adalah satu-satunya kenangan dari ibunya, yang memberikannya sebelum meninggal.
“Aku tidak ingin kehilangan boneka ini, Pak,” kata Tama dengan suara bergetar.
Setelah beberapa saat, Saka menyelesaikan pekerjaannya. Boneka itu kini tampak seperti baru, dengan warna yang cerah dan lengan yang kembali utuh. Tama tersenyum lebar, lalu memeluk Saka erat.
“Terima kasih, Pak. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu.”
Saka tersenyum lembut. “Tidak apa-apa, Nak. Kadang, yang kita butuhkan hanyalah seseorang yang peduli.”
Hujan mulai reda ketika Saka mengantar Tama pulang. Malam itu, Saka merasa perjalanan panjang dan beratnya tak lagi berarti dibanding senyum anak kecil yang kembali menemukan harapan. Hatinya hangat, meski tubuhnya basah dan lelah.
Dan di Desa Tegal Waru, malam itu, hujan tidak hanya membersihkan bumi, tapi juga menyembuhkan luka di hati seorang anak kecil.
Komentar
Posting Komentar