CERPEN- M. HAYKAL ALI D.
Mengubah Segalanya
Khalid dikenal sebagai santri yang sulit diatur di pesantren Daarus Shalihin. Ia sering terlambat shalat berjamaah, bolos kelas, bahkan sering diam-diam melanggar aturan pesantren. Para ustadz telah berkali-kali menegurnya, namun Khalid tetap santai dengan kebiasaannya.
Hingga suatu hari, dalam sebuah acara gabungan antara pesantren Daarus Sholihin dan El-Yaseer, Khalid bertemu Khadijah, seorang santriwati yang terkenal karena akhlaknya yang mulia. Khadijah memimpin kelompok santriwati dalam acara bahtsul masaail, berbicara dengan lembut, namun tegas.
Khalid, yang selama ini jarang memikirkan hal-hal serius, tiba-tiba terdiam. Ada sesuatu tentang Khadijah yang menyentuh hatinya. Bukan hanya karena kecantikannya, tetapi juga kesalehaan yang terpancar dari dirinya.
Sejak pertemuan itu, Khalid merasa ada yang berubah. Ia mulai mempertanyakan hidupnya yang selama ini terkesan main-main. Bayangan Khadijah membuatnya ingin menjadi lebih baik, tetapi ia tahu bahwa dirinya jauh dari pantas untuk seorang seperti Khadijah.
"Bagaimana mungkin seorang seperti aku ingin bersanding dengannya?" gumam Khalid suatu malam.
Namun, perasaan itu justru membuat Khalid perlahan mengubah kebiasaan buruknya. Ia mulai rajin mengikuti shalat berjamaah, mendengarkan kajian, dan mendekatkan diri kepada ustadz untuk belajar lebih serius.
Beberapa waktu kemudian, kabar mengejutkan sampai ke telinga Khalid. Khadijah dilamar oleh seorang pemuda bernama Husein, santri dari pesantren besar di kota. Husein adalah sosok yang dikenal mapan, cerdas, dan taat beragama, berbeda sekali dengan Khalid yang biasa-biasa saja.
Khalid tertegun mendengar kabar itu. Hatinya terasa berat, tetapi ia menyadari bahwa Husein adalah pilihan yang jauh lebih baik untuk Khadijah daripada dirinya. Dalam kesendirian, Khalid mengadu kepada Rabbnya yaitu Allah subhanahu wa ta’ala.
"Ya Allah," doanya lirih sekali, "jika Khadijah adalah takdirku, maka dekatkanlah ia kepadaku. Namun, jika bukan, kuatkan aku untuk menerima keputusan-Mu yang sudah pasti terbaik bagiku. Jadikanlah aku hamba yang lebih baik."
Pada hari pernikahan Khadijah, Khalid hadir sebagai tamu. Ia melihat Khadijah dan Husein berdiri di pelaminan, tersenyum bahagia. Meski hatinya bergetar, Khalid menunduk dan berdoa, "Ya Allah, bahagiakanlah mereka. Jadikanlah rumah tangga mereka penuh dengan keberkahan."
Setelah pernikahan itu, Khalid menyadari bahwa cinta yang sejati bukanlah tentang memiliki, tetapi tentang mengikhlaskan. Rasa cintanya kepada Khadijah menjadi pendorong baginya untuk terus memperbaiki diri.
Sejak itu, Khalid menjadi santri yang lebih rajin dan berkomitmen. Ia yakin, Allah selalu menyiapkan takdir terbaik untuk setiap hamba-Nya yang berusaha dan bersabar. Meski Khadijah tidak menjadi miliknya, cinta itu telah mengubah Khalid menjadi seseorang yang lebih baik dan lebih dekat kepada Allah daripada sebelumnya.
“Tamat"
Komentar
Posting Komentar