CERPEN-DEAS RATNA S.

 Di Balik Canda dan Tawa

Alya dan Dita sudah saling mengenal sejak mereka masih kecil. Mereka tumbuh bersama di sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah hijau. Setiap sore, setelah sekolah, mereka selalu bermain di tepi sungai, berlari-lari di padang rumput, atau bersembunyi di balik pohon besar sambil bertukar cerita. Persahabatan mereka sudah seperti ikatan yang tak bisa diputuskan, sebuah jalinan yang terikat oleh banyak kenangan indah dan tawa.

Namun, semuanya berubah ketika mereka beranjak remaja.

Saat mereka duduk di bangku SMA, Alya merasa hubungan mereka mulai terasa berbeda. Dita, yang dulu selalu berada di sampingnya, kini lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman-teman baru. Mereka berbicara tentang hal-hal yang Alya tidak mengerti—tentang musik yang berbeda, film yang tidak ia tonton, dan segala sesuatu yang seakan menjauhkan Dita darinya. Alya merasa cemas, namun ia tidak berani mengungkapkan perasaannya. Takut jika ia mengungkitnya, Dita akan semakin menjauh.

Suatu hari, Alya melihat Dita berjalan dengan teman-temannya, tertawa ceria. Ia merasa cemburu dan terasing, tetapi lebih dari itu, ia merasa kesepian. Setelah beberapa minggu tidak ada percakapan yang berarti, Alya memutuskan untuk berbicara dengan Dita.

Pagi itu, Alya menunggu Dita di tempat mereka biasa bertemu, di bawah pohon besar yang masih tegak berdiri, meski sudah banyak cabangnya yang tumbang. Dita datang dengan senyum lebar, tetapi senyum itu tidak bisa menyembunyikan kecanggungan di antara mereka.

"Ada apa, Alya?" tanya Dita sambil duduk di bangku panjang, mencoba mencairkan suasana.

Alya menatap Dita, merasakan hatinya berdebar. "Kenapa kamu menjauh? Aku merasa kita seperti orang asing sekarang."

Dita terdiam sejenak, tatapannya jatuh ke tanah. "Aku... aku nggak tahu harus mulai dari mana," jawabnya perlahan. "Aku merasa seperti... aku berubah. Teman-teman baru membuat aku merasa lebih nyaman dengan diri sendiri. Aku nggak tahu kalau itu bakal bikin kamu merasa terasing."

Alya menggigit bibirnya, berusaha menahan air mata. "Tapi aku nggak tahu harus bagaimana, Dita. Aku kehilangan sahabatku. Kita selalu bersama, dulu, tapi sekarang kamu lebih memilih mereka."

Dita terdiam, matanya mulai berkaca-kaca. "Alya, aku nggak bermaksud membuatmu merasa begitu. Aku hanya bingung. Aku merasa kita mulai berbeda. Aku takut, kalau aku masih terlalu dekat denganmu, aku akan kehilangan diriku sendiri. Aku nggak ingin membuatmu merasa terluka."

Alya merasakan sakit yang mendalam, tetapi ia tahu, ini adalah momen yang harus mereka hadapi. Ia menyentuh tangan Dita dengan lembut. "Kamu nggak akan kehilangan dirimu sendiri, Dita. Aku nggak akan pergi ke mana-mana. Kita hanya perlu saling berbicara lagi, seperti dulu. Aku ingin kita tetap menjadi sahabat, meskipun kita berubah."

Dita mengangguk pelan, senyum lembut mulai muncul di wajahnya. "Aku janji, Alya. Aku nggak akan menjauh. Mungkin kita memang berubah, tapi itu nggak berarti kita harus berhenti menjadi teman. Aku butuh kamu, Alya. Aku cuma bingung mencari cara."

Mereka berpelukan, melepaskan keraguan yang selama ini terpendam. Dalam pelukan itu, Alya merasa seolah waktu kembali berputar, membawa mereka ke masa kecil yang penuh tawa. Mereka tahu, persahabatan bukan tentang tidak berubah, tapi tentang mampu menerima perbedaan dan tetap berada di sisi satu sama lain, meski ada jarak dan perubahan.

Sejak saat itu, Alya dan Dita lebih sering berbicara, saling mendengarkan, dan menghargai perbedaan yang ada. Mereka menyadari bahwa persahabatan yang sejati adalah yang mampu bertahan melewati segala rintangan, bahkan ketika hidup membawa mereka ke arah yang berbeda.

Akhir.

 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

RESENSI-RIZQIANA KAMILA

RESENSI- TAUFIQUL HAKIM

RESENSI-HUMIDATI NUSROTID DINIYAH